حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، وَأَبِي عَبْدِ اللَّهِ الأَغَرِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ “
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah dan Abu ‘Abdullah Al Aghor, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Rabb kita Tabaaraka wa Ta’ala kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.” [Shahih Bukhari no. 1077]
قَوْلُهُ يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا اسْتَدَلَّ بِهِ مَنْ أَثْبَتَ الْجِهَةَ وَقَالَ هِيَ جِهَة الْعُلُوّ وَأنكر ذَلِك الْجُمْهُور لِأَنَّ الْقَوْلَ بِذَلِكَ يُفْضِي إِلَى التَّحَيُّزِ تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ
Sabdanya “Rabb kita turun ke langit dunia” digunakan sebagai dalil oleh siapa-siapa yang menetapkan adanya al-jihah, yaitu arah (bagi Allah). Dan mereka berkata bahwa arah bagi Allah itu adalah arah atas. Dan Jumhur mengingkari yang demikian itu karena perkataan atau pendapat yang demikian itu mengharuskan akan ruang tertentu terhadap Allah Ta’ala. [Perhatikan ini, ‘Jumhur mengingkari yang demikian’. Artinya Jumhur Ulama mengingkari al-jihah bagi Allah. Al-Jihah bukanlah pendapat Jumhur ulama.]
وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي مَعْنَى النُّزُولِ عَلَى أَقْوَالٍ فَمِنْهُمْ مَنْ حَمَلَهُ عَلَى ظَاهِرِهِ وَحَقِيقَتِهِ وَهُمُ الْمُشَبِّهَةُ تَعَالَى اللَّهُ عَنْ قَوْلِهِمْ وَمِنْهُمْ مَنْ أَنْكَرَ صِحَّةَ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ جُمْلَةً وَهُمُ الْخَوَارِجُ وَالْمُعْتَزِلَةُ وَهُوَ مُكَابَرَةٌ وَالْعَجَبُ أَنَّهُمْ أَوَّلُوا مَا فِي الْقُرْآنِ مِنْ نَحْوِ ذَلِكَ وَأَنْكَرُوا مَا فِي الْحَدِيثِ إِمَّا جَهْلًا وَإِمَّا عِنَادًا
Dan para ulama telah berbeda pendapat mengenai makna an-Nuzul (turunnya Allah Ta’ala). Di antara mereka ada yang memahami sebagaimana makna lahiriahnya dan haqiqat kata turun. Mereka inilah golongan Musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluq-Nya). Sebagian lagi mengingkari keshahihan hadits-hadits yang disebutkan mengenai hal itu, mereka adalah golongan Khawarij dan Mu’tazilah, yang merupakan keangkuhan mereka. Anehnya, mereka mena’wilkan lafazh-lafazh seperti itu dalam al-Qur`an (yang keshahihannya tak bisa diingkari) dan mengingkarinya dalam hadits (akan keshahihannya dan bukannya mena’wilkannya sebagaimana mereka mena’wil yang terdapat pada al-Qur`an), baik karena kejahilan maupun karena keangkuhan.
وَمِنْهُمْ مَنْ أَجْرَاهُ عَلَى مَا وَرَدَ مُؤْمِنًا بِهِ عَلَى طَرِيقِ الْإِجْمَالِ مُنَزِّهًا اللَّهَ تَعَالَى عَنِ الْكَيْفِيَّةِ وَالتَّشْبِيهِ وَهُمْ جُمْهُورُ السَّلَفِ وَنَقَلَهُ الْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُ عَنِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَالسُّفْيَانَيْنِ وَالْحَمَّادَيْنِ وَالْأَوْزَاعِيِّ وَاللَّيْثِ وَغَيْرِهِمْ
Dan diantara ulama, ada yang menerimanya seperti datangnya, yaitu beriman padanya (pada ayat al-Qur`an dan hadits seperti itu) dengan mentanzih (mensucikan) Allah Ta’ala dari kayfiyah dan juga tasybih (menyerupakan dengan makhluq). [Mereka tidak memahaminya secara zhahirnya lafazh ataupun secara haqiqatnya, dan tidak pula menyerupakan dengan makhluq. Mereka mensucikan sifat nuzul ini dari kayfiyyah, artinya kita tidak bisa berkata bahwa Allah turun tetapi kayfiyyahnya berbeda dengan makhluq. Jika kita berkata demikian, kita masih menetapkan kayfiyyah dan telah memaknainya sebagai turun secara haqiqi. Sedangkan ulama salafush shalih mensucikan dari kayfiyyah. Mereka beriman, tetapi mereka menyerahkan maknanya kepada Allah. Mereka tidak menta’wilnya walau mereka mengetahui bahwa ayat atau hadits seperti itu merupakan ayat dan hadits yang samar yang tidak bisa dipahami secara tekstual begitu saja.] Dan mereka adalah ulama Jumhur Salaf. Dan ini dinuqil oleh al-Bayhaqi dan selain beliau, yaitu para imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal), dan dua Sufyan (Sufyan bin Uyainah dan Sufyan ats-Tsauri), dan dua ulama bernama Hammad, dan al-Awza’i, dan al-Laytsi, dan juga yang selain mereka.
وَمِنْهُمْ مَنْ أَوَّلَهُ عَلَى وَجْهٍ يَلِيقُ مُسْتَعْمَلٍ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ وَمِنْهُمْ مَنْ أَفْرَطَ فِي التَّأْوِيلِ حَتَّى كَادَ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى نَوْعٍ مِنَ التَّحْرِيفِ وَمِنْهُمْ مَنْ فَصَلَ بَيْنَ مَا يَكُونُ تَأْوِيلُهُ قَرِيبًا مُسْتَعْمَلًا فِي كَلَامِ الْعَرَبِ وَبَيْنَ مَا يَكُونُ بَعِيدًا مَهْجُورًا فَأَوَّلَ فِي بَعْضٍ وَفَوَّضَ فِي بَعْضٍ وَهُوَ مَنْقُولٌ عَنْ مَالك وَجزم بِهِ من الْمُتَأَخِّرين بن دَقِيقِ الْعِيدِ
Dan di antara ulama ada yang mena’wilnya (turunnya Allah) sesuai dengan makna yang dipakai dalam bahasa Arab, dan diantara mereka ada yang berlebihan dalam hal itu hingga melakukan tahrif (merubah makna). Di antara mereka ada yang membagi antara ta’wil qarib (dekat) yang masih dapat dipakai dalam bahasa Arab, dengan ta’wil jauh yang tidak dikenal (dalam bahasa Arab). Maka mereka mena’wil sebagian lafazh dan tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah) dalam sebagian lafazh lainnya. Pendapat ini diambil dari Malik dan diikuti oleh ulama terkemudian seperti ibnu Daqiqul Id.
قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَأَسْلَمُهَا الْإِيمَانُ بِلَا كَيْفٍ وَالسُّكُوتُ عَنِ الْمُرَادِ إِلَّا أَنْ يَرِدَ ذَلِك عَن الصَّادِق فيصار إِلَيْهِ وَمن الدَّلِيلَ عَلَى ذَلِكَ اتِّفَاقُهُمْ عَلَى أَنَّ التَّأْوِيلَ الْمُعَيَّنَ غَيْرُ وَاجِبٍ فَحِينَئِذٍ التَّفْوِيضُ أَسْلَمُ
Berkata al-Bayhaqi, “Dan yang paling selamat dalam hal itu adalah beriman tanpa mencari haqiqatnya dan diam dari mencari maknanya, kecuali yang diterangkan mengenainya berdasarkan dalil. Hal itu berdasarkan kesepakatan ulama bahwa ta’wil itu tidaklah wajib, maka tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah) adalah lebih selamat.”
وَقَالَ بن الْعَرَبِيِّ حُكِيَ عَنِ الْمُبْتَدِعَةِ رَدُّ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَعَنِ السَّلَفِ إِمْرَارُهَا وَعَنْ قَوْمٍ تَأْوِيلُهَا وَبِهِ أَقُول فَأَمَّا قَوْلُهُ يَنْزِلُ فَهُوَ رَاجِعٌ إِلَى أَفْعَالِهِ لَا إِلَى ذَاتِهِ بَلْ ذَلِكَ عِبَارَةٌ عَنْ مُلْكِهِ الَّذِي يَنْزِلُ بِأَمْرِهِ وَنَهْيِهِ وَالنُّزُولُ كَمَا يَكُونُ فِي الْأَجْسَامِ يَكُونُ فِي الْمَعَانِي فَإِنْ حَملته فِي الحَدِيث على الْحسي قَتلك صِفَةُ الْمَلَكِ الْمَبْعُوثِ بِذَلِكَ وَإِنْ حَمَلْتَهُ عَلَى الْمَعْنَوِيِّ بِمَعْنَى أَنَّهُ لَمْ يَفْعَلْ ثُمَّ فَعَلَ فَيُسَمَّى ذَلِكَ نُزُولًا عَنْ مَرْتَبَةٍ إِلَى مَرْتَبَةٍ فَهِيَ عَرَبِيَّةٌ صَحِيحَةٌ
Dan berkata ibnul ‘Arobiy, “Dihikayatkan mengenai al-mubtadi’ah (pelaku bid’ah) yang menolak hadits-hadits ini, dan mengenai kaum salaf yang menerimanya, dan mengenai kaum yang mena’wilnya –dan dengannya aku berpendapat. [Ibnul ‘Arabiy termasuk kaum yang mena’wil]. Adapun perkataan ‘turun’ itu kembali kepada perbuatan Allah, bukan kepada dzat-Nya. Bahkan yang demikian itu merupakan ungkapan tentang malaikat-Nya yang turun dengan perintah-Nya dan larangan-Nya. Dan ‘turun’ sebagaimana berlaku dalam materi, juga berlaku dalam ma’nawi. Maka jika terkandung dalam hadits itu atas materi, maka itu sifat malaikat yang diutus dengan membawa perintah dan larangan Allah. Sedangkan jika konteksnya ma’nawi, dengan ma’na bahwa dia belum melakukan kemudian melakukan, maka dinamakan yang demikian itu ‘turun’ dari satu martabat kepada martabat lainnya. Ini merupakan bahasa ‘Arab yang benar.”
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ تَأَوَّلَهُ بِوَجْهَيْنِ إِمَّا بِأَنَّ الْمَعْنَى يَنْزِلُ أَمْرُهُ أَوِ الْمَلَكُ بِأَمْرِهِ وَإِمَّا بِأَنَّهُ اسْتِعَارَةٌ بِمَعْنَى التَّلَطُّفِ بِالدَّاعِينَ وَالْإِجَابَةِ لَهُمْ وَنَحْوِهِ وَقَدْ حَكَى أَبُو بَكْرِ بْنُ فُورَكَ أَنَّ بَعْضَ الْمَشَايِخِ ضَبَطَهُ بِضَمِّ أَوَّلِهِ عَلَى حَذْفِ الْمَفْعُولِ أَيْ يُنْزِلُ مَلَكًا وَيُقَوِّيهِ مَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ الْأَغَرِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ بِلَفْظِ
إِنَّ اللَّهَ يُمْهِلُ حَتَّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللَّيْلِ ثُمَّ يَأْمُرُ مُنَادِيًا يَقُولُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ الْحَدِيثَ
وَفِي حَدِيثِ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ
يُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ الْحَدِيثَ
Ringkasnya, bahwa ibnul ‘Arabiy mena’wilkan ‘turun’ dengan dua sisi. Bisa berma’na turun perintah-Nya atau malaikat bersama perintah-Nya, dan bisa juga merupakan isti’arah (penggunaan kalimat yang tidak dalam pengertian sebenarnya) untuk mengungkapkan sikap lembut terhadap orang-orang yang berdoa serta mengabulkan permohonan mereka. Telah dihikayatkan Abu Bakr bin Fawrak bahwa sebagian dari para syaikh mendhommah huruf ya (menjadi yunzilu), yakni yunzilu malakan (diturunkanlah malaikat). Hikayat ini dikuatkan hadits yang diriwayatkan an-Nasa`i dari jalan al-Agharr dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id dengan lafazh, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah menangguhkan hingga berlalu separuh malam, kemudian memerintahkan penyeru untuk berkata, ‘Adakah yang berdoa? Maka diijabah baginya.’” (al-Hadits)
Sedangkan dalam hadits Utsman bin Abil ‘Ash:
Berserulah penyeru, “Adakah yang berdoa, supaya diijabah baginya.”
قَالَ الْقُرْطُبِيُّ وَبِهَذَا يَرْتَفِعُ الْإِشْكَالُ وَلَا يُعَكِّرُ عَلَيْهِ مَا فِي رِوَايَةِ رِفَاعَةَ الْجُهَنِيِّ يَنْزِلُ اللَّهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُول لَا يسْأَل عَنْ عِبَادِي غَيْرِي لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي ذَلِكَ مَا يَدْفَعُ التَّأْوِيلَ الْمَذْكُورَ
Berkata al-Qurthubi, “Dengan riwayat-riwayat ini, maka selesailah persoalan yang ada, dan ia tidak dapat dipertentangkan dengan dengan riwayat Rifa’ah al-Juhani, ‘Allah turun ke langit dunia kemudian berfirman: Tidak ada yang menanyai tentang hambaKu selain Aku’ Sebab dalam riwayat ini tidak ada yang menolak ta’wil tersebut.
وَقَالَ الْبَيْضَاوِيُّ وَلَمَّا ثَبَتَ بِالْقَوَاطِعِ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالتَّحَيُّزِ امْتَنَعَ عَلَيْهِ النُّزُولُ عَلَى مَعْنَى الِانْتِقَالِ مِنْ مَوْضِعٍ إِلَى مَوْضِعٍ أَخْفَضَ مِنْهُ فَالْمُرَادُ نُورُ رَحْمَتِهِ أَيْ يَنْتَقِلُ مِنْ مُقْتَضَى صِفَةِ الْجَلَالِ الَّتِي تَقْتَضِي الْغَضَبَ وَالِانْتِقَامَ إِلَى مُقْتَضَى صِفَةِ الْإِكْرَامِ الَّتِي تَقْتَضِي الرَّأْفَةَ وَالرَّحْمَةَ
Dan berkata al-Baydhawi, “Setelah tetap dengan nash-nash qath’i bahwa Allah subhanahu wa ta’ala suci dari kematerian dan tidak mungkin atas Allah itu turun dalam arti berpindah dari satu tempat ke tempat yang lebih rendah darinya, maka yang dimaksud turun itu adalah cahaya kasih-sayang-Nya, ya’ni berpindah dari sifat keagungan yang menetapkan kemurkaan dan kemarahan kepada sifat kemurahan yang menetapkan kelembutan dan kasih-sayang.”
assalamualaikum ustadz , al-hamdulillah ana bisa ketemu lagi dengan blog artikel islami , semoga sukses selalu amin.
‘alaykum salam, ustadz
Aaamiiin. Syukron atas doanya.
Alhamdulillah ane dpt izin dr ustadz AI utk meneruskan perjuangan beliau.