عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اطْلُبُوهَا لَيْلَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ، وَلَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ، وَلَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ ، ثُمَّ سَكَتَ
Dari ibnu Mas’ud, berkata: Berkata kepada kami Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam,”Carilah dia (laylatul qadr) pada malam ketujuh belas Ramadhan, malam dua puluh satu, malam dua puluh tiga.” Kemudian beliau terdiam. [Sunan Abi Dawud no.1384]
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ … مِنْ رِوَايَةِ شُعْبَةَ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ
Dan beliau ditanya mengenai puasa pada hari senin, beliau menjawab: “Itu adalah hari, ketika aku dilahirkan dan aku diutus (sebagai Rasul) atau pada hari itulah wahyu diturunkan atasku.” … dari riwayat Syu’bah, ia berkata; “Dan beliau ditanya tentang puasa hari senin dan kamis.” [Shahih Muslim no.1977]
Imam Muslim menganggap bahwa penyebutan ‘kamis’ itu kurang akurat.
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ
Dari Aisyah -Ibu Kaum Mu’minin-, bahwasanya dia berkata: Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah berupa mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri. Dan Beliau berkhalwat di gua Hiro lalu bertahannuts di dalamnya dan beliau beribadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro. [Shahih Bukhari no. 3]
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. [QS. An-Nisa: 163]
Allah telah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad sebagaimana Allah telah memberi wahyu kepada Nabi-Nabi sebelumnya, yaitu pertama kali Allah berikan mimpi yang benar. Wahyu melalui mimpi yang benar ini merupakan pelatihan agar sang Nabi siap menerima wahyu ketika yaqzhah (terjaga).
Mimpi yang benar itu pertama kali datang pada bulan Rabi’ul Awwal, pada saat usia beliau genap 40 tahun. Sejak saat itu, beliau sering menyendiri untuk bertafakkur dan beribadah. Beliau tidak pulang, kecuali sebentar untuk mempersiapkan bekal untuk kembali menyendiri. Hal itu berlangsung selama enam bulan. Setelah enam bulan beliau menyendiri, yaitu pada bulan Ramadhan, ketika beliau di gua Hiro, datanglah wahyu pertama, yaitu surat al-‘Alaq ayat pertama sampai ayat kelima. Setelah itu wahyu tidak turun selama 3 tahun. Namun Nabi tetap ditemani Jibril.
فِي تَارِيخِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ أَنَّ مُدَّةَ فَتْرَةِ الْوَحْيِ كَانَت ثَلَاث سِنِين وَبِه جزم بن إِسْحَاقَ وَحَكَى الْبَيْهَقِيُّ أَنَّ مُدَّةَ الرُّؤْيَا كَانَتْ سِتَّةَ أَشْهُرٍ وَعَلَى هَذَا فَابْتِدَاءُ النُّبُوَّةِ بِالرُّؤْيَا وَقَعَ مِنْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ وَهُوَ رَبِيعٌ الْأَوَّلُ بَعْدَ إِكْمَالِهِ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَابْتِدَاءُ وَحْيِ الْيَقَظَةِ وَقَعَ فِي رَمَضَانَ
Dalam kitab tarikh Ahmad bin Hanbal, dari asy-Sya’bi, bahwa masa fatrah wahyu (terhentinya/terputusnya wahyu) adalah 3 tahun. Dan hal itu dikuatkan ibnu Ishaq. Dan al-Bayhaqi menghikayatkan bahwa masa mimpi adalah 6 bulan. Dan dengan ini, permulaan nubuwah dengan mimpi terjadi pada bulan mawlid Nabi, yaitu bulan Rabi’ul Awwal, setelah sempurna usianya 40 tahun. Dan permulaan wahyu dalam keadaan yaqzhah (terjaga) terjadi pada Ramadhan. [Fathul Bari juz’ 1:27]
وَرَوَى الْوَاقِدِيُّ بِسَنَدِهِ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْبَاقِرِ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ ابْتِدَاءُ الْوَحْيِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يوم الِاثْنَيْنِ، لِسَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَقِيلَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْهُ.
Dan diriwayatkan al-Waqidi dengan sanadnya dari as-Sayyid al-Habib Abu Ja’far al-Baqir bahwasanya dia berkata: Permulaan wahyu kepada Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam adalah hari Senin, pada malam ketujuh belas di bulan Ramadhan, dan pendapat lain pada dua puluh empat Ramadhan. [al-Bidayah wan-Nihayah juz’ 3, hlm. 6]
Dari data-data ini, diambillah bahwa Nuzulul Qur`an, yaitu pertama kalinya al-Qur`an diturunkan kepada Nabi adalah pada 17 Ramadhan, saat usia Nabi telah 40 tahun.
Bolehkah Diperingati?
Sebagaimana hari lahir Nabi, hari dibangkitkannya Nabi sebagai Rasul pun adalah peristiwa besar yang perlu diperingati. Ia merupakan hari yang ditunggu-tunggu para malaikat dan para ahli kitab yang lurus setelah hari lahirnya. Hari lahir dan hari pelantikan itu berpadu pada hari Senin, yang pada hari itu Nabi biasa berpuasa sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim di atas.
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [QS. Al-Hajj: 32]
Bagaimana bisa seseorang mengaku Muslim, tetapi tidak menganggap penting hari lahir dan hari diutusnya orang yang membawa hidayah baginya? Dimana ketaqwaannya?
apakah menganggap penting hari lahir dan hari2 bersejarah nabi hanya bisa dilihat dari sebuah peringatan? apakah sahabat2 nabi terdahulu juga melakukan peringatan2 tsb seperti yg dilakukan disini? kalo iya dimana dalilnya? peringatan memang bukan hal buruk, tapi peringatan yang terjadi disini telah menimbulkan banyak mudharatnya, hendaknya kita bisa lebih mendekatkan diri padanya dengan keikhlasan dalam hati bukan mengagung2kan dengan tindakan2 yang tidak dicontohkan nabi, bukankah agama islam telah sempurna dimasa Nabi SAW lalu kenapa kita menambah2kannya dengan mengatasanamakan kebaikan?