Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [QS. al-Isra`: 1]
Isra Mi’raj merupakan penghiburan dari Allah bagi Nabinya yang tengah mengalami kesedihan demi kesedihan. Padanya mengandung banyak makna-makna yang dalam dari sisi aqidah, syari’ah maupun akhlaq.
Isra Mi’raj merupakan salah satu moment bersejarah yang perlu untuk diingat. Padanya Allah bertasbih untuk membesarkan peristiwa tersebut. Maka pantaskah kita untuk menganggapnya remeh dan tidak membesarkan peristiwa itu agar tetap dikenang dan mendapat tempat di hati ummat Islam?
Pada masa salafush shalih, mungkin peristiwa Isra Mi’raj tidaklah dirayakan seperti saat ini. Karena peristiwa Isra Mi’raj telah mendapat tempat di hati mereka. Mereka sangat memahami arti penting Isra Mi’raj. Bahkan mereka telah memahami dan terus meresapinya dalam setiap sholat mereka.
Namun saat ini, di mana rasa keberagamaan ummat terus memudar, maka semangat-semangat keagamaan seperti semangat keagamaan yang dimiliki salafush shalih perlu dibangkitkan kembali melalui perayaan-perayaan seperti ini. Maka hal ini merupakan hal yang baik demi kepentingan agama dari ummat Islam. Walaupun bid’ah, ia hasanah.
Seperti halnya membukukan al-Quran yang belum dibutuhkan pada masa Rasul. Tetapi ketika banyak dari hafizhul Qur`an yang wafat, maka pembukuan al-Qur`an itu baik menurut Sayyidina Umar. Namun pada awalnya Sayyidina Abu Bakar menolaknya karena merupakan bid’ah. Tetapi kemudian, Sayyidina Abu Bakar dijernihkan hatinya oleh Allah, sehingga menerima usulan Sayyidina Umar untuk mengumpulkan al-Qur`an dan menganggapnya baik. Maka pembukuan al-Qur`an itu, walaupun bid’ah tetapi hasanah.
Maka jelaslah bahwa perayaan-perayaan seperti perayaan Maulid Nabi, Isra` Mi’raj, Nuzulul Qur`an, Haul Ahlul Badr, Fathu Makkah, dsb itu merupakan hal baru yang baik. Wallahu a’lam.
