I.1.1 Nabi SAW Memperbolehkan Berbuat Bid’ah Hasanah

Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw :

مَنْ سَنَّ فِي اْلاِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim Bab Zakat dan Bab Al ‘Ilm). Demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dhalalah.

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas Islam, maka perbuatlah. Alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal – hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan. Demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman. Dan inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM.. (dst)” “hari ini KU-sempurnakan untuk kalian agama kalian, KU-sempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan KU-ridhai Islam sebagai agama kalian”. (QS. Al-Maidah : 3). Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan Rasul-Nya, alangkah sempurnanya Islam.

Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat – ayat lain turun, masalah hutang dll. Berkata Para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini, maka Musyrikin tidak lagi masuk Masjidil Haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh – boleh saja.

Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa – apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya. Inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat – buat hal baru yang berupa keburukan…(dst)”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.

Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada di zaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah Dhalalah).

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas – jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

8 Responses to I.1.1 Nabi SAW Memperbolehkan Berbuat Bid’ah Hasanah

  1. gak sekalian juga diterangkan asbabul wurud nya bib?

    sebagian orang hanya terpaku pada redaksi dan asbabul wurud. padahal tafsir hadits itu lebih luas dari itu. Dan para ulama telah mengambil kesimpulan dari hadits ini bahwa kebiasaan baru itu ada dua, yang hasanah dan yg sayyi’ah; dan sebagian lainnya mengembangkan hingga 5, yaitu yg wajib, sunnah, mubah, makruh, haram. wallahu a’lam

  2. dan juga diterangkan perbuatan apa yg dicontohkan shohabat tsb, maaf bukankah dalam redaksi hadits tsb lafadznya spt ini ” man sanna fil islam sunnatan hasanah” atau boleh menampilkan teks bahasa arabnya biar lebih gablang gt lo bib. mksi…

    itu kan ada teks bahasa arabnya…
    ga bisa baca ya….
    baca juga yg ini:
    http://sunnahrasul.com/2011/07/06/bidah-hasanah-adakah/

  3. ini mah hadits perintah untuk ijtihad… :(

    hehehe
    gitu ya menurut penafsiran agan
    ya udah gan, anggap aja begitu
    nah kalo ada masalah baru, tentunya kita jangan langsung vonis sesat dong ya? tapi liat dulu, itu bertentangan dg quran dan hadits apa ga? kalo ga bertentangan, ya lanjut, apalagi kalo ada dalil yg mendukung. kalo bertentangan, ya larang.

  4. dasr habib koplak mau bodohin umat yang awam, masa kata “sanna” diartikan “perkara baru” belajar dimana bib, siapa ulama yg mengartikan kata sanna dg arti perkara baru? sebutkan nama ulamanya? makasih….

    “sanna” itu mempelopori, memulai. siapa bilang artinya “perkara baru”? yg koplak siapa ya…?

  5. Teks arab hadits tsb adalah “Sunnah Hasanah” kok terjemahannya jadi “Bid’ah Hasanah (membuat hal baru)”, gimana ini Pakdhe?

    Apalagi asbabul wurud hadits tsb adalah sbb:
    Ketika ada tamu dari suku/kabilah lain maka Nabi menawari para Sahabat siapa yang mau bersedekah untuk memberi hidangan makan untuk disuguhkan kepada tamu tsb. Kemudian ada seorang sahabat yang bersegera dengan cepat mengambil sepundi uang dari rumah lalu diberikan ke hadapan Nabi untuk disedekahkan. Lalu bersabdalah Nabi dengan hadits tsb.
    Bersedekah bukanlah hal baru dalam Islam, tetapi sunnah itu sendiri.

    Makna barang siapa dalam hadits tersebut adalah barang siapa yang memberi contoh aplikatif bukan inovatif. Maka yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah mengamalkan sesuatu yang telah ada dalam sunnah nabawiyah (bukan yang diada-adakan).

    Abdullah bin Umar berkata: “Setiap bid’ah itu sesat meskipun DIANGGAP BAIK oleh manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ilas Sunan Al-Kubra I/180 no.191, Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205, dan Al-Lalika-i dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaah no. 126)

    Imam Malik (Imam Mazhab/Tabiut Tabi’in/guru Imam Syafi’i) rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu bid’ah di dalam Islam dan MENGANGGAPNYA BAIK, maka ia telah menuduh bahwa Muhammad telah mengkhianati Risalah beliau. Karena Alloh berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian”, maka segala sesuatu yang pada hari itu bukan merupakan agama maka tidak pula menjadi agama pada hari ini.” (Al-‘I’tisham oleh Imam Asy-Syathibi Al-Maliki 1/28).

    Asy-Syaukani berkata,” Hadist-hadist di awal pembahasan ini termasuk kaidah-kaidah dasar agama yang mencakup berbagai hukum secara tak terbatas, betapa sangat tepat dan lantangnya dalil, ini dalam MEMATAHKAN pendapat di antara ahli fiqih yang membagi bid’ah ke dalam berbagai kategori dan menjadikan indikasi ketertolakan bid’ah pada sebagiannya tanpa menyertakan dalil yang mengkhususkan baik ‘aqli maupun naqli.”(Nailul Author oleh Asy-Syaukani 2/69).

    Asy-Syaukani berkata: ”Dan apabila telah tetap hal ini, jelaslah bagi yang memperhatikan (para pembaca) bahwasanya orang yang membolehkan maulid tersebut setelah dia mengakuinya sebagai bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah sesat, berdasarkan perkataan Rasulullah, tidaklah dia (yang membolehkan maulid) mengatakan kecuali apa yang bertentangan dengan syari’at yang suci ini, dan tidak ada tempat dia berpegang kecuali hanya taqlid kepada orang yang membagi bid’ah tersebut kepada beberapa macam, yang sama sekali tidak berlandasakan kepada ilmu” (Risalah tentang Hukum Maulid oleh Asy-Syaukani).

    sunnah hasanah adalah kebiasaan yg baik. Sanna adalah mempelopori, membuat, mengawali. Secara bahasa memang mirip dg makna bada’a. Jadi, mempelopori, membuat di dalam Islam akan suatu kebiasaan yg baik adalah dibolehkan. Yg tidak boleh itu membuat di dalam Islam suatu kebiasaan yg buruk. Jika dikatakan aplikatif, adakah Islam mengajarkan sayyiat?

    Bid’ah syar’an itu memang buruk walau manusia memandangnya sebagai kebaikan. Tetapi bid’ah secara bahasa adalah perkara baru. Maka perkara baru ini ada yg tdk menyelisihi quran, hadits, dan ijma’. Maka ia adalah perkara baru yg baik. Ada pula perkara baru yg menyelisihi quran, hadits, atau ijma’. Maka ia adlh perkara baru yg buruk.

    Mengenai maulid, slama di dlm nya tdk terdapat yg menyelisihi quran, hdts, n ijma, maka ia baik. Wallahu a’lam

  6. Assamulaikum…
    Tad ente sudahlah jangan berdebat (Cape) dengan mereka yang tidak sepaham, karena ane kwatir nantinya hati ente keras seperti mereka..
    ane saranin blog ini hanya 1 arah saja gak usah ada komen2 yang ga penting dan hanya membuat ragu/membingungkan. Jadi teruskan dakwahmu. Dakwah sampai mati dan mati untuk Dakwah.
    Makasih
    Wassalam.

    alaykum salam wr wb
    insya Allah kami tdk mendebat, hanya berusaha memberikan bayan
    wa alaykum salam

  7. Ulama mana yang menafsirkan hadits tersebut seperti itu? paling cuma akal-akalan antum aja biar ada dalil yang membolehkan berbuat bid’ah..

    Gini aja deh, terserah antum mau menganggap bid’ah boleh dikerjakan atau tidak, tapi jangan merubah makna hadits donk, antum menguasai berapa hadits berserta sanad dan matan sehingga seenaknya merubah makna hadits tersebut?

    Imam Nawawi berkata dalam al-Minhaj:

    قال العلماء: البدعة خمسة أقسام: واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة، فمن الواجبة نظم أدلة المتكلمين للرد على الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك، ومن المندوبة تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والربط وغير ذلك، ومن المباح التبسط في ألوان الأطعمة وغير ذلك، والحرام والمكروه ظاهران

    Berkata para Ulama: Bid’ah itu lima bagian, yaitu bid’ah yang wajib, yang mandub, yang haram, yang makruh dan yang mubah. Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil–dalil pada ucapan–ucapan yang menentang kemungkaran, dsb. Contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku-buku ilmu syariah, membangun majelis ta’lim dan pesantren, dsb. Dan bid’ah yang mubah adalah bermacam–macam dari jenis makanan, dsb. Dan bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui.

    silahkan baca juga:
    http://sunnahrasul.com/2011/07/06/bidah-hasanah-adakah/
    http://sunnahrasul.com/2010/11/29/sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyi-ah/
    http://sunnahrasul.com/2010/09/19/bidah-lagi/

  8. “mana sanna fil islami sunnahtan hasannah…… ( barang siapa yg melakukan sunnah yg baik ….) kenapa diartikan jadi bid’ah hasannah,sepertinya anda tidak bisa membaca text arab nya ( sunnah hasanah bukan bid’ah hasanah )

    makanya perhatikan pembahasan mengenai hal ini melalui halaman tematik. Baca artikel2 mengenai ini dg benar. Jangan membaca sepotong hadits, lalu memahaminya semau nafsu. Baca sepotong ayat, lalu memahaminya semau nafsu. Baca sepenggal perkataan imam, lalu memahaminya semau nafsu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>