Rububiyyah dan Uluhiyyah

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jaatsiyah: 24)

Dalam ajaran Buddha, dapat dikatakan bahwa robb itu tidak ada. Alam semesta, termasuk manusia, ada dengan sendirinya. Manusia tak perlu menyembah sesuatu, hanya perlu meditasi dan latihan jiwa untuk membersihkan diri dari sifat dan perbuatan jahat. Mengikut kepada orang-orang yang dianggap telah mencapai kebahagian dan terlepas dari lingkaran inkarnasi, Buddha. Mereka tak mengakui rububiyah Allah. Orang yang menganggap bahwa orang Buddha juga mengakui rububiyyah Allah itu telah keliru memahami Al-Qur’an.

Kristen

Orang-orang Kristen saat ini tidak mengakui bahwa Allah yang disembah ummat Islam adalah pencipta alam semesta. Mereka meyaqini bahwa alam semesta diciptakan oleh Bapa yang kemudian menitis, menjelma, atau apa pun istilah mereka, menjadi Yesus. Mereka tak mengakui rububiyyah dan uluhiyyah Allah. Bahkan kaum Kristen unitarian saat ini pun tak mengakui rububiyyah dan uluhiyyah Allah.

Berbeda dengan sebagian Kristen unitarian purba seperti Kaisar Najasy, Pendeta Bukhayra, dan Waraqah bin Naufal. Mereka mengakui rububiyah Allah dan uluhiyyah Allah seraya mengesakan-Nya. Sedangkan Kristen Trinitarian tidak mau mengesakan Allah. Bahkan mereka menjadikan Paus mereka sebagai pembuat syari’at yang menghapus syari’at Allah yang dibawa Nabi Isa. Mereka juga telah menukar aqidah Tauhid dengan aqidah trinitas. Mereka menganggap Yesus sebagai Tuhan yang menjelma menjadi manusia.

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka (orang Yahudi) menjadikan orang-orang alimnya, dan (orang Nashrani menjadikan) rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Yahudi

Orang Yahudi telah lebih dulu dalam mencederai tauhid rububiyyah. Telah banyak pelanggaran mereka dalam agama. Mereka menjadikan ‘orang-orang bijak’ (hakhom) mereka sebagai pembuat syari’at yang berhak membuat dan mengubah syari’at, menganggap Nabi Uzair sebagai anak Allah, mengubah kitab Allah, dll.

Saat ini kaum Yahudi telah benar-benar menjadi musuh Allah dan mempersiapkan kedatangan Dajjal. Kesombongan mereka telah membutakan mereka hingga mereka merasa dapat mengalahkan Allah.

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا

Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahanam tempat tinggal bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Kahfi: 102)

Dijelaskan dalam tafsir Jalalain: (Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku) yakni para Malaikat-Ku, Nabi ‘Isa dan Nabi ‘Uzair (menjadi penolong-penolong selain Aku?) yakni tuhan-tuhan atau arbaba [bentuk jamak dari kata 'rabb'] yang dapat menolong mereka. Lafal Auliyaa-a ini menjadi Maf’ul Tsani daripada lafal Liyattakhidzuu, sedangkan Maf’ul Tsani daripada lafal Hasiba tidak disebutkan. Maksud ayat: Apakah mereka menyangka bahwa pengambilan mereka terhadap hal-hal yang telah disebutkan itu sebagai sesembahan mereka tidak membuat-Ku murka, dan Aku hanya berdiam diri tidak menghukum mereka? Tentu saja tidak. (Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahanam bagi orang-orang kafir) yaitu bagi mereka dan bagi orang-orang kafir lainnya yang seperti mereka (sebagai tempat tinggal) maksudnya Jahanam itu telah disediakan buat mereka sebagaimana disediakannya tempat tinggal bagi tamu.

Tak Dapat Dipisahkan

Sekarang dapat kita pahami bahwa rububiyyah dan uluhiyyah tak dapat dipisahkan. Mengakui uluhiyyah sesuatu, berarti mengakui rububiyyahnya pula. Mengakui rububiyyah sesuatu berarti mengakui uluhiyyahnya pula.

Page 2 of 6 | Previous page | Next page