Rabb adalah sesuatu yang menciptakan, mengatur, melindungi, memberi rizqi, menguasai, memelihara, dsb. Sifat-sifat seperti ini disebut juga rububiyyah.
Sedangkan Ilah adalah sesuatu yang disembah, diseru dalam doa, ditaati, dipatuhi, dsb. Sifat-sifat seperti ini disebut uluhiyyah.
Rububiyyah dan uluhiyyah tak dapat dipisahkan. Ketika sesuatu itu disembah, dijadikan ilah, dilekatkan padanya sifat uluhiyyah, maka pada saat yang sama, sesuatu itu dilekatkan pula sifat rububiyyah.
Misalnya seseorang datang kepada dukun, minta petunjuk untuk kesembuhan atau kelapangan rizqi. Lalu ia mengikuti petunjuk sang dukun dan melaksanakan perintahnya dengan keyaqinan bahwa sang dukun dan aturan sang dukun itu dapat mendatangkan apa yang dibutuhkannya. Padahal apa yang diajarkan sang dukun bukanlah apa yang dibolehkan syari’at. Maka orang itu telah menjadikan dukun sebagai ilah (yang diikuti aturannya disertai iman) dan rabb (yang diyaqini dapat mendatangkan segala kebutuhan).
Misal lainnya, kaum kafir Quraisy meyaqini bahwa berhala mereka dapat memberi mereka rizqi dan perlindungan, lalu mereka menyembahnya. Maka sebenarnya mereka mengakui berhala mereka sebagai rabb dan ilah. Bahkan jika Muslimin menghina berhala mereka, maka mereka akan membalas dengan menghina Allah. Artinya mereka lebih mencintai berhala mereka. Mereka tidak hanya menyekutukan Allah dalam uluhiyyah, tetapi juga dalam rububiyyah. Bahkan mereka berani menghina Allah, karena dalam pemikiran mereka, berhala-berhala mereka lebih kuat dari Allah sehingga dapat melindungi mereka dari Allah.
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. Al-An’am: 108)
Mereka juga meyaqini bahwa berhala itu dapat memberi petunjuk sebagaimana disinggung dalam Al-A’raaf ayat 193:
“Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.”
Terkadang mereka mengundi dengan anak panah di depan berhala mereka dengan keyaqinan bahwa berhala mereka akan memberi mereka petunjuk dengan cara seperti itu.
Mereka juga meyaqini bahwa berhala itu dapat memberi rizqi sebagaimana disinggung dalam Al-’Ankabut ayat 17 dimana Allah membantah keyaqinan mereka itu:
“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.”
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ
Di pagi ini ada hamba-hamba Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Orang yang berkata, ‘Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya’, maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, ‘(Hujan turun disebabkan) bintang ini atau itu’, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang’ [HQR. Bukhari dari Zaid bin Khalid al-Juhani]
Maka jelaslah bahwa uluhiyyah tak dapat dipisahkan dari rububiyyah, dan rububiyyah tak dapat dipisahkan dari uluhiyyah. Seseorang itu meminta kesembuhan dari berhala disebabkan ia yaqin bahwa berhala itu dapat memberikan kesembuhan. Artinya, seseorang itu menjadikan berhala sebagai ilah karena mereka yaqin bahwa berhala itu mempunyai sifat rububiyyah.
Hindu
Dalam salah satu kepercayaan Hindu, rabb dan ilah itu ada 3, Brahman, Vishnu, dan Shiva. Brahman adalah pencipta, Wishnu adalah pemelihara, sedangkan Shiwa adalah penghancur. Masing-masing ummat Hindu ada yang menyembah Brahman, ada yang menyembah Vishnu, ada pula yang menyembah Shiva. Mereka tak mengakui rububiyah dan uluhiyyah Allah. Maka orang-orang yang berfikir bahwa semua orang-orang non-Muslim, termasuk orang Hindu, mengakui rububiyyah Allah itu adalah keliru.
Buddha
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jaatsiyah: 24)
Dalam ajaran Buddha, dapat dikatakan bahwa robb itu tidak ada. Alam semesta, termasuk manusia, ada dengan sendirinya. Manusia tak perlu menyembah sesuatu, hanya perlu meditasi dan latihan jiwa untuk membersihkan diri dari sifat dan perbuatan jahat. Mengikut kepada orang-orang yang dianggap telah mencapai kebahagian dan terlepas dari lingkaran inkarnasi, Buddha. Mereka tak mengakui rububiyah Allah. Orang yang menganggap bahwa orang Buddha juga mengakui rububiyyah Allah itu telah keliru memahami Al-Qur’an.
Kristen
Orang-orang Kristen saat ini tidak mengakui bahwa Allah yang disembah ummat Islam adalah pencipta alam semesta. Mereka meyaqini bahwa alam semesta diciptakan oleh Bapa yang kemudian menitis, menjelma, atau apa pun istilah mereka, menjadi Yesus. Mereka tak mengakui rububiyyah dan uluhiyyah Allah. Bahkan kaum Kristen unitarian saat ini pun tak mengakui rububiyyah dan uluhiyyah Allah.
Berbeda dengan sebagian Kristen unitarian purba seperti Kaisar Najasy, Pendeta Bukhayra, dan Waraqah bin Naufal. Mereka mengakui rububiyah Allah dan uluhiyyah Allah seraya mengesakan-Nya. Sedangkan Kristen Trinitarian tidak mau mengesakan Allah. Bahkan mereka menjadikan Paus mereka sebagai pembuat syari’at yang menghapus syari’at Allah yang dibawa Nabi Isa. Mereka juga telah menukar aqidah Tauhid dengan aqidah trinitas. Mereka menganggap Yesus sebagai Tuhan yang menjelma menjadi manusia.
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka (orang Yahudi) menjadikan orang-orang alimnya, dan (orang Nashrani menjadikan) rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)
Yahudi
Orang Yahudi telah lebih dulu dalam mencederai tauhid rububiyyah. Telah banyak pelanggaran mereka dalam agama. Mereka menjadikan ‘orang-orang bijak’ (hakhom) mereka sebagai pembuat syari’at yang berhak membuat dan mengubah syari’at, menganggap Nabi Uzair sebagai anak Allah, mengubah kitab Allah, dll.
Saat ini kaum Yahudi telah benar-benar menjadi musuh Allah dan mempersiapkan kedatangan Dajjal. Kesombongan mereka telah membutakan mereka hingga mereka merasa dapat mengalahkan Allah.
أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا
Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahanam tempat tinggal bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Kahfi: 102)
Dijelaskan dalam tafsir Jalalain: (Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku) yakni para Malaikat-Ku, Nabi ‘Isa dan Nabi ‘Uzair (menjadi penolong-penolong selain Aku?) yakni tuhan-tuhan atau arbaba [bentuk jamak dari kata 'rabb'] yang dapat menolong mereka. Lafal Auliyaa-a ini menjadi Maf’ul Tsani daripada lafal Liyattakhidzuu, sedangkan Maf’ul Tsani daripada lafal Hasiba tidak disebutkan. Maksud ayat: Apakah mereka menyangka bahwa pengambilan mereka terhadap hal-hal yang telah disebutkan itu sebagai sesembahan mereka tidak membuat-Ku murka, dan Aku hanya berdiam diri tidak menghukum mereka? Tentu saja tidak. (Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahanam bagi orang-orang kafir) yaitu bagi mereka dan bagi orang-orang kafir lainnya yang seperti mereka (sebagai tempat tinggal) maksudnya Jahanam itu telah disediakan buat mereka sebagaimana disediakannya tempat tinggal bagi tamu.
Tak Dapat Dipisahkan
Sekarang dapat kita pahami bahwa rububiyyah dan uluhiyyah tak dapat dipisahkan. Mengakui uluhiyyah sesuatu, berarti mengakui rububiyyahnya pula. Mengakui rububiyyah sesuatu berarti mengakui uluhiyyahnya pula.
Saya menyembah Allah, karena saya yaqin dan percaya bahwa Allah adalah robb saya. Saya beriman bahwa Allah adalah robb saya, Dia yang mencipta saya dan yang dapat memenuhi kebutuhan saya, maka kepada-Nya saya menyembah, dan kepada-Nya pula saya meminta.
Maka kelirulah mereka yang beranggapan bahwa semua manusia di dunia ini mengakui rububiyyah Allah, tetapi hanya Muslim saja yang mengakui uluhiyyah Allah. Padahal jika mereka mengakui rububiyyah Allah dengan benar, tentu mereka tak akan menghalangi kita menyembah Allah.
Benar bahwa kafir Quraisy mengenal Allah, tetapi mereka mengakui arbaaban min duunillaah (robb-robb selain Allah). Bahkan mereka berani menghina Allah dan mengagungkan berhala-berhala. Sedangkan keadaan Yahudi dan Nashrani adalah seperti Anda ketahui di atas. Ada pun penganut agama lainnya, dan para atheis, komunis, dan lainnya, tak dapat dikatakan sebagai orang-orang yang mengakui Rububiyyah Allah.
Gerakan Muwahidun
Gerakan muwahidun yang berpusat pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab sebenarnya adalah gerakan takfir. Mereka menganggap bahwa hanya mereka saja yang mengerti dan benar-benar mengamalkan tauhid. Sedangkan orang-orang di luar kelompok mereka tak bedanya dengan kafir Quraisy dan lainnya, yaitu mengakui rububiyyah Allah tetapi menyekutukan Allah dalam hal uluhiyyah. Mereka merasa bahwa mereka adalah nabi yang diutus kepada musyrikin modern.
Bantahan Nabi
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي الخَيْرِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمًا، فَصَلَّى عَلَى أَهْلِ أُحُدٍ صَلاَتَهُ عَلَى المَيِّتِ، ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى المِنْبَرِ، فَقَالَ: «إِنِّي فَرَطٌ لَكُمْ، وَأَنَا شَهِيدٌ عَلَيْكُمْ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الآنَ، وَإِنِّي أُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الأَرْضِ – أَوْ مَفَاتِيحَ الأَرْضِ – وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي، وَلَكِنْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا»
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Al Laits bin Sa’d dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Al Khair dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan menyalatkan terhadap para sahabat yang tewas di perang Uhud, lantas beliau menuju mimbar dan bersabda: “Aku lebih dahulu wafat daripada kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian, dan aku demi Allah, sungguh telah melihat telagaku sekarang, dan aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi -atau kunci-kunci bumi. Demi Allah, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang justru aku khawatirkan atas kalian adalah kalian bersaing terhadap kekayaan-kekayaan bumi.” [Shahih Bukhari]
Nabi membantah tuduhan Wahabiyyun yang telah menuduh bahwa ummat Nabi Muhammad telah kembali kepada kesyirikan sebagaimana bani Ismail menjadi musyrik sepeninggal Nabi Ismail.
Maka jelaslah bahwa tak mungkin kaum mayoritas ummat ini akan kembali syirik sehingga diperlukan semacam Nabi untuk mengajak kepada Tauhid.
Nabi juga bersabda bahwa jika seseorang menuduh saudaranya sebagai kafir atau musyrik, maka tuduhan itu jatuh kepada yang dituduh (jika tuduhan itu benar) atau kepada yang menuduh (jika tuduhan itu ternyata tidak benar).
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا
Apabila seseorang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir,” maka bisa jadi akan kembali kepada salah satu dari keduanya. [Shahih Bukhari dari Abu Hurairah dan ibnu Umar ra]
Faktanya, tuduhan mereka keliru. Mereka menuduh kita sebagai ahlul bid’ah, musyrik, dsb. Namun hal ini telah banyak kami bantah dalam blog ini. Bahkan faktanya, mereka menuduh bahwa Nabi telah abtar (putus keturunannya) seperti telah dituduhkan kafir Quraisy. Lalu sebagai ganti memulyakan keturunan Rasul, mereka memulyakan keturunan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan gelar Alu Syaikh. Padahal Nabi tidaklah abtar.
Allah mengembalikan sebutan ‘kafir’, ‘musyrik’, ‘musuh Allah’ kepada siapa yang pantas menyandangnya.
Permasalahan
Pertanyaan: Bagaimana dengan kenyataan bahwa kaum musyrik yang mengakui Alloh yang menciptakan langit dan bumi akan tetapi mereka menyembah pada berhala-berhala? Siapa yang menjadi Rabb dan siapa yang menjadi Ilah bagi mereka?
Jawaban: Mereka meyaqini bahwa berhala-berhala itu memberi mereka rizqi dsb, jadi mereka menganggap bahwa berhala-berhala itu adalah rabb mereka. Lalu mereka menyembah berhala-berhala itu, maka mereka menganggap bahwa berhala-berhala itu adalah ilah mereka. Bahkan mereka berani menghina Allah ketika Muslim menghina berhala-berhala mereka. Mereka berani kepada Allah, karena mereka yaqin bahwa berhala-berhala mereka akan melindungi mereka dari Allah.
Adapun ummat Islam, jika orang-orang shalih mereka dihina (yang menurut tuduhan sebagian kaum bahwa sebagian ummat Islam telah menyembah orang-orang shalih dan kuburan), mereka tidak akan menghina Allah. Ketika mereka mendapat rizqi, maka mereka yaqin bahwa itu semua datang dari Allah. Ketika mereka sembuh dari penyakit, mereka yaqin bahwa kesembuhan itu dari Allah, bukan dari obat dsb. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak menyembah yang selain Allah. Dan faktanya, mereka berdoa hanya kepada Allah, bukan kepada orang-orang shalih atau pun kepada kuburan.
Pertanyaan: Semua Nabi dan Rasul ketika menyeru ummatnya untuk menyembah Alloh dan meninggalkan berhala, mereka berkata “Wahai umatku, sembahlah Rabb kalian!” (misal: Al Baqoroh 21, Al Maidah 72, Al Hijr 99 dll). Jika Rabb dan Ilah mereka adalah berhala, kenapa Nabi/Rasul malah menyuruh mereka menyembah berhala? Dan jika Rabb dan Ilah mereka adalah Alloh, kenapa mereka disebut musyrik? Jika orang-orang musyrik itu menjadikan berhala sebagai Rabb dan Ilah sekaligus, kenapa perintahnya bukan “sembahlah Alloh!”, tapi malah “sembahlah Rabb kalian!”?
Jawaban: “Sembahlah Robb kalian!” Maksudnya: Sembahlah rabb kalian yang sesungguhnya, yaitu yang menciptakan kalian dan orangtua kalian dan juga nenek moyang kalian. Begitu pula ketika dikatakan “Ilah kalian adalah ilah yang esa”, maksudnya adalah Ilah kalian yang haqq, bukan ilah-ilah palsu selain Allah. Mereka menganggap Allah sebagai rabb dan juga ilah, tetapi mereka tidak mengesakan Allah. Bersama Allah, mereka jadikan arbaabam min duunillaah (rabb-rabb selain Allah), dan mereka jadikan arbaabam min duunillaah itu sebagai ilah mereka juga. Ingat, mengakui uluhiyyah Allah, bukan berarti mengesakan Allah dalam uluhiyyah. Begitu pula mengakui rububiyyah Allah bukan berarti mengesakan Allah dalam rububiyyah.
Pertanyaan: Bagaimana dengan tafsir Ibnu Abbas yang berkata : “Termasuk keimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit?, siapakah yang menciptakan bumi?, siapakah yang menciptakan gunung?, mereka menjawab : Allah. Namun mereka berbuat kesyirikan” (Tafsir At-Tobari 13/373)
Jadi sebenarnya orang yang dibicarakan oleh Ibnu Abbas ini siapa Rabbnya dan siapa Ilahnya? Dia mengakui Alloh sebagai pencipta langit dan bumi, kenapa dibilang syirik?
Jawaban: Kesyirikan mereka bukan hanya pada persoalan uluhiyyah, tetapi juga pada rububiyyah. Mereka mengakui bahwa pencipta langit adalah Allah. Tetapi mereka tidak mengakui bahwa Allah akan membangkitkan mereka. Berarti ini sudah masuk pada persoalan rububiyyah juga, artinya mereka juga bermasalah dalam hal rububiyyah. Mereka tidak mengakui salah satu rububiyyah Allah, yaitu bahwa Allah akan membangkitkan mereka. Mereka yaqin bahwa berhala-berhala mereka dapat melindungi mereka dari Allah, artinya mereka yaqin bahwa berhala-berhala mereka lebih kuat dari Allah. Jadi jelas, bahwa mereka tidak hanya meragukan sebagian sifat rububiyyah Allah, tetapi mereka juga menyekutukan Allah dengan arbabam min dunillah.
Dan di antara kesyirikan itu adalah ketika seseorang meyaqini bahw hujan itu diturunkan oleh bintang. Maka ia telah menjadikan bintang sebagai rabb penurun hujan. Itu adalah bentuk kesyirikan dalam rububiyyah.
Jadi, syirik itu bukan hanya soal uluhiyyah, tetapi juga rububiyyah. Firaun telah mengklaim bahwa dirinya adalah rabb, begitu juga Namrudz.
Orang-orang kafir ini, jika ditanya di dalam qubur, “Man robbuka?” maka mereka tak akan bisa menjawabnya. Karena mereka tidak mengakui Allah sebagai rabb secara haq.
Sebagian mereka beriman bahwa Allah adalah yang menciptakan langit, bumi dan gunung. Tetapi mereka menyekutukan Allah dengan arbabam min dunillah (rabb-rabb yang selain Allah). Artinya mereka tidak mengesakan Allah dalam hal rububiyyah. Beriman bahwa Allah yang menciptakan langit, bumi dan gunung, tetapi tidak mengesakan Allah dalam rububiyyah. Karena mereka juga percaya bahwa berhala dapat memberi petunjuk, rizqi, dan lainnya. Inilah kesyirikan mereka. Bukan hanya dalam hal uluhiyyah, tetapi juga rububiyyah.
Coba perhatikan ayat ini:
“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan Adam dari tulang rusuk mereka dan mengambil kesaksian atas diri mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Rabbmu?” mereka menjawab: “Benar, kami bersaksi (bahwa engkau adalah Rabb kami)”. (Kami melakukan hal itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami tidak tahu-menahu tentang hal ini”. Atau agar kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya nenek moyang kami sejak dahulu telah berbuat syirik, sedangkan kami ini hanyalah keturunan mereka (yang meniru perbuatan mereka). Apakah Engkau akan menyiksa kami (atas) kesalahan (mereka) orang-orang yang sesat?” (Al-A’raaf: 172-173).
Agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami tidak tahu-menahu tentang hal ini.”
Tentang hal apa? Lihat pertanyaan sebelumnya, maka akan kita pahami bahwa yang mungkin mereka bantah adalah soal keesaan Allah sebagai rabb. Jadi, ‘tentang hal ini’ maksudnya adalah tentang tauhid rububiyyah.
Atau agar kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya nenek moyang kami sejak dahulu telah berbuat syirik”
Syirik dalam hal apa? Jika dilihat dari pertanyaan sebelumnya, maka syirik di sini dalam hal rububiyyah.
Orang kafir yang tidak mau menyembah Allah, mereka tidak mengakui rububiyyah Allah. Orang musyrik yang menyembah Allah dan juga yang selain Allah, mereka tak mau mengakui keesaan Allah dalam hal rububiyyah juga. Itulah sebabnya mereka tak akan bisa menjawab ketika ditanya dalam qubur: “Man Robbuka?”
Pengingkaran kepada keesaan rububiyyah Allah inilah yang kemudian melahirkan pengingkaran terhadap keesaan uluhiyyah Allah.
Jelaslah sekarang, ketika seseorang menjadikan sesuatu sebagai ilah, misalnya dengan berdoa meminta rizqi kepada sesuatu itu, maka pada saat yang sama ia menjadikannya sebagai rabb karena ia meyaqini bahwa sesuatu itu bisa memberikan rizqi.
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah. [QS. Yusuf: 106]
Ayat 106 dari surat Yusuf ini menceritakan tentang mereka yang menyembah Allah bersama arbabam min dunillah (rabb-rabb selain Allah), bukan tentang mereka yang menyembah arbabam min dunillah tanpa menyembah Allah. Orang Buddha, Hindu, Majusi, dsb itu tidak masuk dalam ayat ini, ia dibahas dalam ayat-ayat lain.
Jadi tidak benar bahwa semua orang mengakui rububiyyah Allah. Dan tidak benar pula bahwa orang yang menyekutukan Allah itu mengesakan Allah dalam hal rububiyyah. Bahkan ayat itu menyatakan bahwa mereka itu tidak beriman kepada Allah, kecuali sembari menyekutukan Allah dalam hal rububiyyah dan uluhiyyah. Jadi, mereka itu tidak beriman kepada Allah, kalau mereka beriman kepada Allah, maka mereka beriman kepada Allah sembari beriman kepada yang lain sebagai rabb mereka. Jadi, jika mereka ditanya tentang siapa yang menciptakan langit, bumi dan gunung, maka mereka akan menjawab: “Allah”, namun disamping itu, mereka juga beriman kepada yang selain Allah sebagai rabb.
حدثنا محمد بن عبد الأعلى ، قال:حدثنا محمد بن ثور ، عن معمر ، عن قتادة:( وما يؤمن أكثرهم بالله ) الآية ، قال: لا تسأل أحدًا من المشركين: مَنْ رَبُّك؟ إلا قال: ربِّيَ الله! وهو يشرك في ذلك
Qotadah berkata tentang ayat tersebut, “Tidaklah ditanya seseorang dari musyrikin: ‘Siapa Robbmu?’ kecuali menjawab: ‘Robbku Allah!’ sedangkan dia menyekutukan dalam hal yang demikian.”
“Musyrikin” di sini maksudnya adalah orang yang menyekutukan Allah, bukan mereka yang tidak mengakui Allah sebagai rabb. “Dalam hal yang demikian” maksudnya adalah dalam hal rububiyyah.
Pertanyaan: Lalu bagaimana dengan mereka yang menyembah kuburan dan orang-orang shalih?
Jawaban: Jika mereka berdoa dan memohon kepada kuburan dan orang shalih karena yaqin bahwa orang-orang shalih itu memiliki sifat rububiyyah, maka hal ini syirik. Tetapi jika mereka mendatangi / ziarah qubur untuk mendoakan ahlul qubur, maka hal ini bukan menyembah quburan.
Pertanyaan: Tetapi mereka bertawassul dengan orang shalih itu, menjadikan mereka perantara sebagaimana musyrikin quraisy juga menyembah berhala dan orang-orang shalih hanya sebagai perantara untuk mendekatkan mereka kepada Allah. Bagaimana ini?
Jawaban: Istilah yang sama, tetapi maknanya berbeda. Ketika bertawassul, seseorang itu meminta kepada Allah dan berdoa kepada Allah. Tawassul ini dibolehkan dalam banyak hadits.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال لمّا ماتت فاطمة بنت أسد أم علي بن ابي طالب رضي الله عنهما -وذكر الحديث- وفيه: أنه صلى الله عليه وسلم اضطجع في قبرها وقال: اللَّهُ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، اغْفِرْ لِأُمِّي فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ، ولَقِّنْهَا حُجَّتَهَا، وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مُدْخَلَهَا، بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِي، فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ [رواه الطبرني]
Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, “Ketika Fathimah binti Asad ibunda Ali bin Abi Thalib ra meninggal, maka sesungguhnya Nabi SAW berbaring diatas kuburannya dan bersabda:
“Allah adalah Dzat yang Menghidupkan dan mematikan. Dia adalah Maha Hidup, tidak mati. Ampunilah ibuku Fatimah binti Asad, ajarilah hujjah (jawaban) pertanyaan kubur dan lapangkanlah kuburannya dengan hak Nabi-Mu dan nabi-nabi sebelumku, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.” [HR. Thabrani dalam Al-Mu'jamul Awsath no. 189]
Sedangkan kafir quraisy, mereka benar-benar meminta dan berdoa kepada berhala, berqurban kepada berhala. Lalu sebagian mereka berkata bahwa mereka melakukan itu semua untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui berhala-berhala.
Jadi berbeda antara praktek tawassul dengan praktek penyembahan berhala yang katanya hanya sebagai perantara.
syukron ustadz… cukup jelas dan mudah dimengerti
Alhamdulillah bagi ana tambah jelas dan iman ustadz thank’s pencerahannya ………..semoga mas Ajam masih ngaji dan tambah mengerti apa itu tawasul …….aamiin .
Alhamdulillah, sangat jelas.
Ustadz…, sekalian mohon izinnya menuntut ilmu di blog antum untuk waktu-waktu selanjutnya, ridlanya kami harapkan ustadz, syukron.
Assalamualaikom,
Alhamdulillah dengan definisi dinyatakan rasanya tiada sebab artikel ini tidak difahami. Ia mudah dan jelas.
Ingin saya kemukakan suatu pertanyaan mengenai Ibnu Katheer. Bukankah iIbnu Katheer ini murid kepada Muhammad ibn Wahab? Kerana apa yang perhati golongan Wahabbiyun ni banyak merujuk kepada tafsir Ibnu Katheer samalah juga dengan Syiah. Hadith mereka rujuk Muhaddith Mujassimah Nasr uddin Albani. Rasanya susahlah mereka untuk mencari kebenaran kerana sumber rujukan mereka itu kontraversial.
kayanya sulit dibantah, kecuali emang yang suka ngeyel, kemudian copy paste, muter-muter kaya keledai di penggilingan (maaf pinjam istilah Ustadz)
alhamdulillah…. ane makin jelas memahami tauhid, dan ane makin mantap ninggalin paham wahabi
assalamualaikum,
tulisan yg bagus mudah di fahami,semoga bermanfaat bagi kita semua..amin
thanks ustadz..
wassalamu alaikum..
salamu’alaikum ustad,, artikelnya bagus menambah pengatahuan buat saya, tetap istiqamah ya ustd…
Assalamualaikom wr.wb
Merasakan hal ini paling penting dan untuk konfirmasi maka disini saya mohon untuk bertanyakan fasal tauhid/akidah.
Persoalan saya:-
1. Kita faham bahawa pembahagian tauhid Rububiyyah dan
Uluhiyyah adalah rekaan Ibnu Taimiyah, Bagaimana pula dengan
Asma wa sifat, samada dari Sheikh Ibnu Taimiyah juga atau
ditambah oleh Ibnu Wahab?
2, Bagaimana dengan mereka yang berpegang kepada tauhid ini
kerana pembahagian tauhid tiga bahagian ini bukan dari Nabi
s.a.w.
3. Apakah hal sifat Asma dan Fi i’l Allah dari Quran dan juga hadith
tidak boleh dita’wil dari segi pengertiannya seperti perkataan
“Turun”.-Nuzul ,” Duduk Bersila” – Istiwa atau perkataan lain
yang membawa maksud “berlari”, “”wajah”, ” tangan” “jari”,”kaki”
dan lain2?
4. Apakah dengan ta’wilan bermakna berlaku “tahrif” pada
ayat quran atau hadith sedangkan kita tidak mengubah ayat
sedikatpun hanya ta’awil dari aspek kefahaman pengertian
sahaja iaitu dari yang tersurat kepada tersirat?.
Dalilnya sbg.contoh”-
Wahyu pertama yang nabi terima ” IQRA’ BISMIRABBIKALLAZI
KHOLAQ” = BACALAH DENGAN NAMA TUHANMU YANG
MENCIPTAKAN.
** Ayat ini ayat perintah. Kalau secara tersurat maka Allah suruh
Nabi s.a.w baca atau membaca. Apa yang Nabi s.a.w. nak baca
dalam gua Hira’ tu, kitabkah atau makalah kah?. Rasulullah kan
umi – illiterate.. Jadi tidak lojiklah perkataan ” Baca” itu kalau
dimaksudkan membaca atas faktor telah dinyatakan.
Oleh itu perkataan “BACA” KITA TAA’WIL -kita ertikan sebagai
KETAHUILAH atau FAHAMILAH juga BERITAHULAH
Bila disambung dengan ayat kedua maka jelaslah pengertian
dan maqasidnya. ia itu:-
Bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan (sekelian
makhluk)(1) Ia menciptakan manusia dari sebuku(seketul) darah
beku.(2)
Begitu juga pada ayat 4.
Kemudian kita lihat ada hadith yang bermaksud:-
H 1. Setiap hati berada diantara dua (jari) dari jari jari Tuhan
(Rahman) A’za wajalla
– Bagaimana ini! begitu banyak jari yang tuhan ada?
– atau mungkin jari tuhan melekat pada semua manusia sebab
semua hati berada dicelah jari tuhan
H2. Sehingga Allah meletakkan kakiNya diatas
– Sekarang Allah ada kaki dan meletakkan diatas pula.
( diipetik Hadith dari buku tulisan Dr. Johari Mat (Wahhabi) CEO Pst. Pengajian Islam (KIAS)di Kelantan. Dalam bukunya berjudul “AL-IMAM AL-SYAFI’I Kegemilangan Ilmu & Pemikiran ” mengatakan Imam Syafi’ie beraqidah akan sifat Allah dalam Hadith dan Al-Quran tanpa ta’wil, tasybih, ta’til, takyif dan tamthil- suatu pembohongan yang menyesatkan dan fitnah terhadap Imam Shyafi’ie – Sedangkan ditulis nama sebenar Imam Shafi’ie pun ga betul – Dr.Johari Mat.- PHD Saudi -rujukan Wahhabiyun)
(Lihat blog Islam Vs Wahabi – http://abu-syafiq.blogspot.com/.)
Kemudian mari kita lihat pula ayat 88 surah Al Qasas yang :-
“Kulli syai in ha likun illa wajhah.” bermaksud
“Setiap sesuatu akan binasa kecuali wajahNya”
Maksudnya tanpa ta’wil.
Disini Tuhan ada wajah yang kekal dan selainnya akan binasa.
Nah sekarang kita lihat pengertian Hadith dan Ayat 88 surah Al Qasas tadi. Ia akan mememberi maksud bahawa:-
Jari/ tangan yang banyak dan Kaki tuhan tadi akan binasa
melainkan wajahnya sahaja tidak binasa.
Ada lagi hadith yang menyebut Allah “ketawa” “berlari”, “turun”
atau ” duduk” Bagaimanapula keadaannya kalau tanpa ta.wilan pengertian. Pasti ia akan menimbulkan imaginasi suatu keadaan perlakuan yang sama seperti manusia.= TASYBIH
Begitu juga bila dikatakan Allah ada “tangan” , “jari”, “wajah” pasti menimbulkan imaginasi Allah berjisim = TAJSIM
Bila beranggapan begini maka ianya FITNAH bagi Allah kerana firman Allah dalam Al Quran jelas menyatakan bahawa Allah tidak
setara/ tiada persamaan dengan sesuatu apapun. Ayat akhir suratul Ikhlas yang mudah sebagai dalil tepat dan banyak lagi ayat-ayat lain yang mengaskan ketidaksamaan Allah dengan makhluknya. Subhanallahi wa bihamdihi.
5. Apakah betul beraqidah sebegini ?-(Asma wa sifat – tanpa takwil)
Ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi a’la dii nik wa a’la tho a’tik
Ya Malika yau middin. Iyya kana’ budu wa iyya kanasta i’in.
La haula wala quwwata illa billahi a’li yil a’dzim.
Wallahu a’lam
pohon titipan dan tunjuk ajar dari admin / aliman